Senin, 25 Maret 2013

Bagaimana Alam Pikiran Manusia Berkembang?

       Manusia sebagai mahluk yang berpikir di bekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami dan menjelaskan gejela-gejala alam. Merupakan objek penelitian yang penting pikiran inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Pikiran inilah yang membentuk kepribadian manusia. Pikiran  inilah yang dominan mempengaruhi manusia. Jika pikiran manusia rusak ,maka hidupnya pun akan rusak .

        Dalam kajian psikologi penelitian mengenai pikiran mulai, dibahas secara mendalam oleh Sigmund freud. Sigmund Freud mengumpamakan manusia seperti gunung es. Di mana manusia yang terlihat hanyalah sebagian kecil kepribadiannya namun kepribadian manusia yang paling besar bisa di lihat jika menelusur manusia secara mendalam, Sebagian besar diri manusia itu ada di alam pikirannya.
          
        Sigmund Freud adalah seorang pakar psikologi mendirikan aliran psikoanalisis. Freud lahir di Austria, 6 Mei 1856 dan meninggal di inggris pada 23 September 1939. Psikoanalisis merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologis yang menjadi metode untuk perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf dan penyimpangan metal. Perkembangan alam pikir manusia di gambarkan dengan proses psikososial dalam tahap perkembangan menjadi dewasa. Perkembangan ini sangat penting untuk kepribadian yang menetap.Kepribadian tersebut manual sejak kecil.

Manusia Sebagai Mahluk Mempunyai ciri –ciri :

1.   Memiliki organ tubuh yang komplek dan sangat  
      khusus terutama otaknya.
2.   Mengadakan pertukaran zat yakni adanya zat yang 
      masuk dan keluar.
3.   Memberikan tanggapan  terhadap rangsangan dari 
      dalam dan luar.
4.   Memiliki  potensi berkembang biak.
5.   Tumbuh dan berkembang.
6.   Berinteraksi dan lingkungannya.
7.   Meninggal /mati.

        Dari ketujuh ciri-ciri tersebut dapat di katakan bahwa manusia merupakan mahluk hidup lainnya. Serta manusia memiliki kelebihan yaitu akal budi dan pikiran sehingga dapat mengendalikan tubuh jasmaninya. Pengetahuan yang terkumpul semakin maju menyebabkan rasa ingin tahu manusia semakin berkembang. Pengetahuan yang di peroleh ini akhirnya tidak hanya terdapat pada objek yang di amati dengan pancra indera saja.

        Tetapi juga masalah lain misalnya: yang berhubungan dengan baik atau buruk. Indah atau tidak indah. kalau suatu masalah dapat di pecahkan timbul masalah lain , Menunggu pemecahannya manusia bertanya terus setelah tahu apa -Nya mereka ingin tahu bagaimana dan mengapa yang terdahulu untuk di kombinasikan usaha mencari jawabannya dan untuk itu mereka harus berfikir rasa ingin tahunya terus berlanjut.


        Bukan hanya apa-apa saja yang ingin di ketahui jawabannya. Tetapi jawaban dari bagaimana dan kemudian berlanjut mengapa tentang hal-hal yang bersangkutan dengan benda-benda dan semua peristiwa yang di amatinya. Perwujudan kepribadian seseorang nampak dalam keseluruhan pribadi manusia dalam antar hubungan dan antar aksinya dengan lingkungan hidupnya.



Penafsiran kita tentang tingkah laku belum menjamin pengertian kita tentang kepribadian manusia, Karena itu realita demikian amat jauh dari kesempurnaan. Tetapi usaha untuk mengerti dan memahami manusia ini jauh lebih baik daripada pengertian dan kesimpulan-kesimpulan yang kita miliki tentang manusia.

Manusia secara terus-menerus mengembangkan pengetahuan, mereka mengembangkan pengetahuan tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang menyangkut kelangsungan hidupnya saja. Mereka juga berusaha untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Demikian pula kita tentang seseorang tentang kepribadiannya. Selalu berkembang itulah sebabnya di katakan “tak kenal maka tak cinta”. Bahkan cinta itu tumbuh dari sebuah pengenalan. Artinya makin kita mengenalnya, makin kita memahami kepribadiannya yang positif makin pula kita mencintainya.

Dengan melewati fase demi fase tahapan demi tahapan yang mana setiap / tahapan tersebut di berikan suatu treatment/perlakuan khusus untuk di ketahui respon atas stimulus yang di berikan.

Contoh yang pertama adalah :
Anak di berikan soal sederhana seperti memilihWarna yang cerah dan warn yang redup

S=Stimulus di berikan warna-warna cerah dan redup. Untuk di pilih yang sesuai Dengan keinginannya. Kemudian responnya apabila dia memilih warna
Cerah maka, dia alam pikiran sistem kerja ototnya sudah berkembang secara (dinamis).Bila dia memilih warna redup mata, Maka dapat di katakan sistem Perkembangannya belum di katakana belum dinamis (statis).

Contoh yang kedua adalah :
Anak di berikan pertanyaan seperti pertanyaan rumit dan pertanyaan yang mudah di cerna.Seperti menghafal dan yang mudah di cerna Seperti membaca .

S = Stimulus di berikan 10 kata untuk dia mengahafal , dan 5 kalimat untuk membaca. Apabila membacanya lebih kuat daripada menghafalnya maka sistem kerja otak sudah berfungsi secara dinamis (cepat).Apabila mengahafalnya lebih kuat daripada membacanya dapat di katakan Statis (lambat).