Sabtu, 28 Desember 2013

Hubungan interpersonal dalam komunikasi



Hubungan interpersonal dalam komunikasi 

Pengertian Interpersonal dalam komunikasi

           Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, Communis, yang berarti
membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau
lebih. Gerad E. Miler mengemukakan dalam Daryanto (2011) bahwa komunikasi
sebagai situasi situasi yang memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu
pesan kepada seorang penerima dengan disadari untuk mempengaruhi perilaku
penerima. Proses komunikasi minimal terdiri dari tiga unsur utama yaitu
pengirim pesan, pesan itu sendiri dan target penerima pesan. Komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu Communis atau Communicatio, yang dalam bahasa Inggris Common yang memiliki arti “sama”. Berkomunikasi berarti berusaha untuk mencapai kesamaan makna atau kesamaan arti (commonness). 

 
2. Pembahasan Jurnal

a.     Secara umum pentingnya komunikasi dapat dipelajari dari dan untuk
kehidupan yang luas. Seseorang berekspresi, bergaul, membina jalinan kerja
sama yang menguntungkan dan sukses, melalui keterampilan ia berkomunikasi.
Selain itu, komunikasi juga memiliki fungsi teurapeutik (menyembuhkan),
sebagai alat hiburan, alat utama proses ritual dan hal-hal yang bersifat
instrumental, bahkan sarana utama praktek spionase dan transaksi suatu bisnis.

b.    Komunikasi dalam organisasi hendaknya dapat dipahami secara luas dari setiap
fungsi manajemen. Pekerjaan menyusun rencana atau program peningkatan mutu
pelayanan dan penyusunan anggaran, tidak akan pernah bisa lepas dari tuntutan
berkomunikasi. Perumusan visi organisasi yang benar-benar akurat, komposit dan
fisibel akan selalu ditempuh melalui proses komunikasi yang kompleks. Dalam
fungsi membagi tugas dan mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan, setiap staf
lebih-lebih sebagai pimpinan akan selalu terlibat dengan keterampilan 
 
c.     Komunikasi dalam pelatihan merupakan komunikasi antara orang-orang
(instruktur dan peserta) bertatapmuka, memungkinkan setiap pesertanya
menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal ataupun non verbal.
Komunikasi demikian menunjukkan pihak-pihak yang berkomunikasi berada
dalam jarak yang dekat dan mereka saling mengirim dan menerima pesan baik
verbal ataupun non-verbal secara simultan dan spontan. Komunikasi dalam
pelatihan mempunyai fungsi menjembatani arti atau makna baru; menejelaskan
deskripsi dan tugas; mendorong semangat dan kekompakan peserta pelatihan dan
kelompoknya; mengemban fungsi utility dan cohesion; dan mengeliminasi hal-
hal yang tidak berguna atau tidak fungsional (redudancy atau wasted efforts).


Kesimpulanya:

1. Pola komunikasi interpersonal antara pelatih dengan atlet NPC Surakarta
   dibagi menjadi dua, yaitu pada saat latihan (formal) dan diluar jam latihan
   (informal ).

2. Aliran komunikasi interpersonal antara tuna daksa, dan tuna grahita terjadi
   dari pelatih langsung kepada atlet tanpa menggunakan media. Sedangkan
   aliran komunikasi interpersonal yang berlangsung antara pelatih.

3. Dalam pola komunikasi interpersonal pelatih dan atlet difabel, ditemukan dua
   model komunikasi yang digunakan yaitu model linear dan model sirkuler.
  
4. Isi pesan yang disampaikan dari pelatih kepada atlet tidak bermakna konotasi,
   karena kata-kata yang diucapkan kebanyakan berupa masukan, arahan,
   motivasi, maupun evaluasi Hal ini menunjukkan kompetensi sebagai pelatih
   yang selalu berkata to the point atau langsung ke makna sesungguhnya kepada
   atletnya.

5. Hal-hal yang menghambat komunikasi interpersonal untuk pelatih tidak
   ditemukan, karena dapat teratasi dengan bantuan media dan pendamping
   untuk tuna rungu wicara. Sedangkan hambatan komunikasi interpersonal
   komunikasi tidak ada masalah hanya yang bermasalah adalah keterlambatan
   berpikir atlet tuna grahita untuk menangkap pesan yang disampaikan pelatih.


 Daftar pustaka :

 http://ebookbrowsee.net/jurnal-komunikasi-trimukti-oktaviasari-pdf-d507833920

Abdul Salim, Choiri. (1998). “Penelitian Masalah Kecacatan”. Surakarta:
PPRRUNS bekerjasama dengan PRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta.

Hubungan interpersonal dalam komunikasi



Hubungan interpersonal dalam komunikasi


Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, Communis, yang berarti
membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau
lebih. Gerad E. Miler mengemukakan dalam Daryanto (2011) bahwa komunikasi
sebagai situasi situasi yang memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu
pesan kepada seorang penerima dengan disadari untuk mempengaruhi perilaku
penerima. Proses komunikasi minimal terdiri dari tiga unsur utama yaitu
pengirim pesan, pesan itu sendiri dan target penerima pesan.


 Komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu Communis atau
Communicatio, yang dalam bahasa Inggris Common yang memiliki arti “sama”.
Berkomunikasi berarti berusaha untuk mencapai kesamaan makna atau kesamaan
arti (commonness). Mulyana (2000:61-69) mengungkapkan pengertian
komunikasi dalam pandangan:

 
2. Pembahasan Jurnal

a. Secara umum pentingnya komunikasi dapat dipelajari dari dan untuk
kehidupan yang luas. Seseorang berekspresi, bergaul, membina jalinan kerja
sama yang menguntungkan dan sukses, melalui keterampilan ia berkomunikasi.
Selain itu, komunikasi juga memiliki fungsi teurapeutik (menyembuhkan),
sebagai alat hiburan, alat utama proses ritual dan hal-hal yang bersifat
instrumental, bahkan sarana utama praktek spionase dan transaksi suatu bisnis.

b. Komunikasi dalam organisasi hendaknya dapat dipahami secara luas dari setiap
fungsi manajemen. Pekerjaan menyusun rencana atau program peningkatan mutu
pelayanan dan penyusunan anggaran, tidak akan pernah bisa lepas dari tuntutan
berkomunikasi. Perumusan visi organisasi yang benar-benar akurat, komposit dan
fisibel akan selalu ditempuh melalui proses komunikasi yang kompleks. Dalam
fungsi membagi tugas dan mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan, setiap staf
lebih-lebih sebagai pimpinan akan selalu terlibat dengan keterampilan 
 
c. Komunikasi dalam pelatihan merupakan komunikasi antara orang-orang
(instruktur dan peserta) bertatapmuka, memungkinkan setiap pesertanya
menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal ataupun non verbal.
Komunikasi demikian menunjukkan pihak-pihak yang berkomunikasi berada
dalam jarak yang dekat dan mereka saling mengirim dan menerima pesan baik
verbal ataupun non-verbal secara simultan dan spontan. Komunikasi dalam
pelatihan mempunyai fungsi menjembatani arti atau makna baru; menejelaskan
deskripsi dan tugas; mendorong semangat dan kekompakan peserta pelatihan dan
kelompoknya; mengemban fungsi utility dan cohesion; dan mengeliminasi hal-
hal yang tidak berguna atau tidak fungsional (redudancy atau wasted efforts).


Kesimpulanya:

1. Pola komunikasi interpersonal antara pelatih dengan atlet NPC Surakarta
   dibagi menjadi dua, yaitu pada saat latihan (formal) dan diluar jam latihan
   (informal ).

2. Aliran komunikasi interpersonal antara tuna daksa, dan tuna grahita terjadi
   dari pelatih langsung kepada atlet tanpa menggunakan media. Sedangkan
   aliran komunikasi interpersonal yang berlangsung antara pelatih.

3. Dalam pola komunikasi interpersonal pelatih dan atlet difabel, ditemukan dua
   model komunikasi yang digunakan yaitu model linear dan model sirkuler.
  
4. Isi pesan yang disampaikan dari pelatih kepada atlet tidak bermakna konotasi,
   karena kata-kata yang diucapkan kebanyakan berupa masukan, arahan,
   motivasi, maupun evaluasi Hal ini menunjukkan kompetensi sebagai pelatih
   yang selalu berkata to the point atau langsung ke makna sesungguhnya kepada
   atletnya.

5. Hal-hal yang menghambat komunikasi interpersonal untuk pelatih tidak
   ditemukan, karena dapat teratasi dengan bantuan media dan pendamping
   untuk tuna rungu wicara. Sedangkan hambatan komunikasi interpersonal
  komunikasi tidak ada masalah hanya yang bermasalah adalah keterlambatan
  berpikir atlet tuna grahita untuk menangkap pesan yang disampaikan pelatih.


 Daftar pustaka :

 http://ebookbrowsee.net/jurnal-komunikasi-trimukti-oktaviasari-pdf-d507833920

Abdul Salim, Choiri. (1998). “Penelitian Masalah Kecacatan”. Surakarta:
PPRRUNS bekerjasama dengan PRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta.