Jumat, 18 April 2014

Kesehatan Mental (Tugas Pertemuan Kedua)

Tugas Pertemuan Kedua

STRES
A.    Arti Penting Stres

·  Pendahuluan         
Kita semua pernah mengalami stres. Tetapi sebenarnya stres tidak selalu jelek. Stres dalam tingkat yang sedang itu perlu untuk menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas yang ada, dan membantu orang melakukan penyesuaian. Hidup yang serba tenang dan adem ayem itu menjemukan. Dalam ketenangan yang menjemukan itu orang misalnya menonton film detektif, menonton pertandingan, bermain game untuk mengatasi kondisi yang menjemukan ini. Sistem syaraf juga memerlukan rangsangan agar bisa tetap terlatih dan selanjutnya bisa berfungsi dengan baik.

Stres yang jelek adalah stres yang terlalu kuat dan bertahan lama. Stres ini bisa mengganggu jasmani maupun rohani. Misalnya siswa yang mengalami stres terus menerus karena tuntutan belajar yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kemampuan. Stres yang terus menerus bisa juga timbul karena polusi udara dan kebisingan, kepadatan, dan kemacetan lalu lintas, tindakan kejahatan, beban kerja yang berlebihan. Stres berat juga dialami seseorang karena kehilangan orang yang dicintai dalam kecelakaan atau bencana alam.

Stres yang timbul pada setiap orang pun bisa berbeda-beda, walaupun peristiwa yang dialami itu sama. Peristiwa tertentu yang membuat seseorang mengalami stres berat, bisa saja hanya menimbulkan stres ringan pada orang yang lain. Bahkan dampak rasa stres itu sendiri bisa berbeda pada setiap orang. Stres yang bagi seseorang dianggap menghancurkan, bagi orang lain bisa merupakan tantangan. Ada orang yang menjadi sangat kreatif dan produktif justru dalam keadaan stres. Ada siswa yang justru baru belajar secara efektif pada saat-saat menjelang ujian.

·  Pengertian Stres
Setiap manusia didunia ini pasti pernah merasakan apa itu yang namanya stres dalam hidupnya. Stres sendiri banyak dialami individu karena individu tersebut mengalami tekanan hidup. Tetapi walaupun setiap individu pasti pernah mengalami stres, tingkat stres yang dialami oleh masing-masing individu itu pasti berbeda-beda, tergantung pada stressor atau penyebab stres itu sendiri seperti masalah-masalah atau tekanan hidup yang dialami. Sebelum membahas mengenai stres lebih lanjut, kita lihat terlebih dahulu arti penting stres menurut para ahli :

J. P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stres sebagai satu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Hal senada diungkapkan dalam Atkinson (1983), stres terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan, dan fisikal yang menyebababkan stres dinamakan stresor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres, atau secara singkat disebut stres.

Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005:481) “ Stres adalah rasa cemas dan terancam yang timbul ketika kita menginterprestasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai’’. (“Stres is the anxious or threatening feeling that comes when we interpret or appraise a situation as being more than our psychological resources can adequately handle”). Dalam bahasa sehari-hari stres dikenal sebagai stimulus atau respon yang menuntut individu melakukan penyesuaian. Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis (Chaplin : 1999). Stres juga diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku dan ilmu alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi fisik, biologis dan psikologis organisme yang memberikan tekanan kepada organisme itu sehingga ia berada diatas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan wedford dalam Arend dkk, 1997). Menurut Lazarus dan Folkman (1986), stres memiliki 3 bentuk yaitu :

1.      Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stres atau disebut juga dengan stressor.
2.      Respon, yaitu stres yang merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: jantung berdebar, gemetar, pusing serta respon psikologis seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah tersinggung.
3.      Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui starategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.







Rice (2002) mengatakan bahwa stres adalah suatu kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan individu merasa tegang. Atkinson (2002) mengemukakan bahwa stres mengacu pada peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu terhadap situasi stres ini sebagai respon stres.

Berdasarkan berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu keadaan yang menekan diri individu. Stres terjadi karena antara keinginan dan harapan tidak sesuai. Stressor atau penyebab stres sendiri bisa terjadi karena 3 faktor antara lain adalah sebagai berikut :

1.      Faktor eksternal atau lingkungan
2.      Faktor internal (psikologis)
3.      Faktor biologis


Jika stres pada individu tidak tertangani maka bukan tidak mungkin stres tersebut akan membuat orang menjadi frustasi. Tingkatan stres pada individu satu sama lain pasti berbeda, individual differences tersebut yaitu adanya faktor jenis kelamin, usia, tingkah laku, intelegensi, afeksi, budaya, dan lain-lain. Karena stres adalah hal yang alamiah maka bukanlah ketakutan berlebihan yang harus terjadi ketika stres datang. Malah kita harus menjadikan stres sebagai tantangan untuk kita agar kita bisa mengelola stres itu dengan baik karena jika stres bisa dikelola dengan baik, stres tersebut akan bisa menjadi bermanfaat untuk kehidupan kita. Cara mengatasi stres bisa disebut dengan coping stres. Apa saja sih yang termasuk dalam jenis-jenis coping stres?

Individu dari semua umur mengalami stres dan mencoba untuk megatasinya. Karena ketegangan fisik dan emosional yang menyertai stres menimbulkan ketidaknyaman, seseorang menjadi termotivasi untuk melakukan sesuatu utuk mengurangi stres. Hal-hal yang dilakukan bagian dari coping (dalam Jusung, 2006)

Sarafino (2006) menambahkan bahwa coping adalah proses dimana individu melakukan usaha untuk mengatur (management) situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan antara usaha (demands) dan kemampuan (resources) yang dinilai sebagai penyebab munculnya situasi stres. Menurut Sarafino (2006) usaha coping sangat bervariasi dan tidak selalu dapat membawa pada solusi dari suatu masalah yang menimbulkan situasi stres. Individu melakukan proses coping terhadap stres melalui proses transaksi dengan lingkungan, secara perilaku dan kognitif.

Menurut Lazarus dan Folkaman, ada 2 jenis strategi coping stres yaitu :
1.      Emotional-Focused Coping
Coping ini bertujuan untuk melakukan kontrol terhadap rsepon emosional terhadap situasi penyebab stres, baik dalam pendekatan secara behavioral maupun kognitif. Lazarus dan Folkman (1986) mengemukakan bahwa individu cenderung menggunakan Emotional-Focused Coping ketika individu memiliki persepsi bahwa stressor yang ada tidak dapat diubah atau diatasi. Berikut adalah aspek-aspeknya :

1.      Self-Control, merupakan suatu bentuk dalam penyelesaian masalah dengan cara mengendalikan diri, menahan diri, mengatur perasaan, maksudnya selalu teliti dalam mengambil tindakan.
2.      Seeking Social Support (For Emotional Reason) suatu cara yang dilakukan individu dalam menghadap masalahnya dengan cara mencari dukungan sosial pada keluarga atau lingkungan sekitar, bisa berupa empati atau perhatian.
3.      Positive Reinterpretation, respon dari suatu individu dengan cara merubah dan mengembangkan kepribadiannya, atau mencoba mengambil pandangan positif dari sebuah masalah (hikmah).
4.      Acceptance, berserah diri, individu menerima apa yang terjadi padanya atau pasrah. Karena dia sudah beranggapan tiada hal yang bisa dilakukannya lagi untuk memecahkan masalahnya
5.      Denial (avoidance), pengingkaran suatu cara individu dengan berusaha menyanggah dan mengingkari dan melupakan masalah-masalah yang ada pada dirinya.

2.      Problem-Focused Coping

Coping ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari suatu stres atau memperbesar sumber daya dan usaha untuk mengahadapi stres. Lazarus dan Folkman (1986) mengemukakan bahwa individu cenderung menggunakan Problem-Focused Coping ketika individu memiliki bahwa stressor yang ada dapat diubah. Aspek-aspek yang digunakan individu adalah :

1.      Distancing, ini adalah suatu bentuk coping yang sering kita temui, yaitu usaha untuk menghindar dari permasalahan dan menutupi pandangannya yang positif, dan seperti menganggap remeh / lelucon suatu masalah.
2.      Planful Problem Solving, atau perencanaan, individu membentuk starategi dan perencanaan menghilangkan dan mengatasi stres, dengan melibatkan tindakan yang teliti, berhati-hati, bertahap dan analitis.
3.      Positive Reapraisal, yaitu usaha untuk mencari makna positif dari permasalahan dengan pengembangan diri, dan strategi ini terkadang melibatkan hal-hal religi.
4.      Self Control, merupakan suatu bentuk dalam penyelesaian masalah dengan cara menahan diri, mengatur perasaan, maksudnya selalu teliti dan tidak tergesa dalam mengambil tindakan.
5.      Escape, usaha untuk menghilangkan stres dengan melarikan diri dari masalah, dan beralih pada hal-hal lain, seperti merokok, narkoba, makan banyak dan lain-lain.


A.    Tipe-Tipe Stres

1.      Distress adalah energi negatif, menguras yang dihasilkan dari kecemasan, depresi, kebingungan, putus asa, dan kelemahan. Distress dapat disebabkan oleh berbagai stressor seperti kematian dalam keluarga, keuangan yang overload, tugas kerja atau sekolah.
2.      Eustress adalah energi positif, bermanfaat yang memotivasi dan didapatkan dari perasaan bahagia, penuh harapan, dan pergerakan yang bertujuan seperti dipanggil untuk interview, kelahiran bayi, atau saat membeli mobil baru.
3.      Hyperstress adalah ketika seseorang didorong melebihi apa yang didapat ia tangani, mereka akan mengalami apa yang kita disebut hyperstress. Hyperstress hasil dari menjadi kelebihan beban atau bekerja terlalu keras. Bahkan hal-hal kecil bisa memicu respon emosionalm yang kuat. Orang yang paling mungkin menderita hyperstress adalah pedagang dijalanan yang terus-menerus dibawah ketegangan.
4.      Hypostress berlawanan dengan hyperstress. Itu karena hypostress adalah salah satu jenis stres yang dialami oleh orang yang selalu bosen. Seseorang dalam pekerjaan tidak menantang, seperti buruh pabrik melakukan tugas yang sama berulang-ulang, sering akan mengalami hypostress. Pengaruh hypostress adalah perasaan gelisah dan kurangnya inspirasi.

B.     Symtom Reducing Respons Terhadap Stres

·  Pengertian symptom – reducing respons terhadap stres
Kehidupan akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami stres tidak akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap individu memilki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stres yang ada.



·  Mekanisme Pertahanan Diri

1.      Identifikasi
Suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dengan membuatnya menjadi kepribadiannya. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya memiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan sebagainya, maka mahasiswa tersebut akan meniru  dan berperilaku seperti dosennya.
2.      Kompensasi (compensation)
Untuk menutupi kegagalannya dalam suatu bidang kelemahan atau dari bagian / organ fisiknya, ia membuat prestasi yang tinggi dalam bidang tersebut atau yang berkaitan dengan organ fisiknya. Misalnya Septian memilki nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun prestasi olahraga yang ia miliki sangat memuaskan.
3.      Overcompensation / Reaction Formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya karena mengobrol saat upacara, beraksi dengan menjadi sangat tertib saat melaksanakan upacara san menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
4.      Sublimasi (sublimation)
Sublimasi adalah dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh super ego dilahirkan ke dalam bentuk perilaku yang lebih sesuai dengan norma-norma masyarakat. Misalnya hasil korupsi adalah hasil perbuatan yang tidak dibenarkan oleh norma-norma masyarakat atau agama. Agar dia tidak dianggap sebagai seorang koruptor, ia lalu mengamalkan sebagaian   hasil korupsinya untuk membantu anak yatim piatu atau membantu pendirian rumah ibadah (perilaku sosial).
5.      Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek diluar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya, namun ia berkata temannya lah yang tidak menyukainya.
6.      Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam diri pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seorang wanita mencintai seorang pria lalu ia memasukkan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
7.      Reaksi Konversi
Secara singkat mengalihkan koflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalnya belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya menjadi pucat berkeringat.


8.      Represi
Represi adalah konflik pikiran, implus-implus yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya tadi siang.
9.      Supresi
Supresi adalah upaya menekan sesuatu yang dianggap membahayakan atau bertentangan dengan super ego ke dalam ketidaksadarannya. Misalnya dengan berkata (sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi)
10.  Denial
Denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.
11.  Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan. Misalnya artis yang sedang digosipkan selingkuh karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
12.  Fantasi
Fantasi adalah apabila seorang mengahadapi konflik frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal / berfantasi, misalnya dengan lamunan. Contohnya seorang pria yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi dirinya dengan orang yang ia cintai.
13.  Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan / menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunnya dengan bolos sekolah.
14.  Sikap mengritik orang lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif. Misalkan seorang karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung .

C.    Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres

Salah satu cara dalam menangani stres yaitu dengan menggunakan metode biofeddback, tekniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkain alat yang sangat rumit sebagai feedback. Melakukan sugesti untuk diri sendiri juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spritual (mengarah pada Tuhan).




Strategi coping untuk mengatasi stres :

·  Menghilangkan stres mekanisme pertahanan dan penanganan yang berfokus pada masalah. Menurut Lazarus  penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk yaitu :
1.      Coping yang berfokus pada masalah (problem fosuced coping)
Adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan distres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
2.      Coping yang berfokus pada emosi (problem focused coping)
Adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres diaman individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif



Strategi Penanganan Stres dengan mendekat atau menghindar

1.      Strategi mendekati (approach strategis) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebabnya atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung.


2.      Strategi menghindar (avoidance strategis) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres.


Hubungan Interpersonal

A.    Model-Model Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal adalah suatu kondisi atau keadaan bagaimana cara kita mengenali diri kita terhadap lingkungan sekitar, apakah kita sudah mengetahui siapa diri kita dan apa hal yang terbaik yang pernah kita lakukan. Contoh orang yang tidak memiliki interpersonal yaitu gampang emosi, marah yang meledak-ledak dan mudah putus asa atau tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dapat merubahnya lebih baik. Orang yang mempunyai banyak teman dan dapat menjadi orang fleksibel adalah orang yang mampu membaca situasi disekitarnya dan dapat beradaptasi dengan lingkungan. Tapi ada definisi lain berdasarkan sumber yang tepat dan benar tentang hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.

·  Hubungan Interpersonal mempunyai 4 model yang diantaranya meliputi:

1.      Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif)
atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
2.      Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai exspetasi peranan (role expectation, tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan peranan tertentu.
3.      Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan  individu-individu terlibat dalam bermacam permainan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

-          Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua).
-          Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
-          Kepribadian anak(kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

4.      Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungan interpersoanal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.




B.     Pembentukan Kesan Dan Ketertarikan Interpersonal

Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi:

1.      Pembentukan
Tahap ini sering disebut juga tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama “ fase kontak yang permulaan’’. Ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.

Menurut charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan menurut tujuh kategori :
1.      Informasi demografis
2.      Sikap dan pendapat (tentang orang atau objek)
3.      Rencana yang akan datang
4.      Kepribadian
5.      Perilaku pada masa lalu
6.      Orang lain serta
7.      Hobi dan minat

2.      Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu :
1.      Keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
2.      Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
3.      Respon yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat).
4.      Nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang beralangsung).


C.    Intimasi Dan Hubungan Pribadi

Pendapat beberapa ahli mengenai intimasi, diantara lain yaitu :
a)      Shadily dan Echlos (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
b)      Sullivan (Prager,1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
c)      Streinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan stu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
d)     Levinger & Snoek (Brenstein dkk 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi disekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagai pengalaman hidup. Keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertanggung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e)      Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat formal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam papalia dkk,2001)

Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love, dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang harmonis dan lenggeng.

Komunikasi yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling terbuka pun menjadi modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka jangan kaget apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan mulus atau selalu terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur. Tentu saja itu kan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun tak pernah menginginkan hal berikut.

Referensi :

1.      Aronson , Elliot . (2005). Social psychology. Upper saddle river : person pretince hall
2.      Hall, S Calvin. Lindzey, Gardner (2009). Teori-teori psikodinamika, Yogyakarta : Kanisus
3.      Jalaludin Rakhmat (1998) : psikologi komunikasi, Edisi 12, Pt Remaja Rosdakarya Offset, Bandung
4.      http://shafashan15.blogspot.com/2012/04/hubungan-interpersonal.html
5.      http://idzona.blogspot.com/2013/05/cara-mengatasi-stress-secara-alami.html
6.      http://rifkaputrika.wordpress.com/2014/04/04/arti-penting-stress-dan-jenis-jenis-coping-stress/
7.      Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma

Tulisan Pertemuan Kedua

·  Ceritakan pengalaman stres yang paling berkesan, juga cara yang digunakan untuk mengatasinya ?

Nama saya Vidya apriliani, umur saya sekarang 19 tahun.      disini saya akan menceritakan berbagai pengalaman stres yang pernah saya rasakan. Pada saat semester pertama saya pernah mengalami stres jelek karena hasil nilai ipk yang saya dapat belum memuaskan sesuai dengan target saya. Setelah ujian selesai kita menunggu selama sebulan untuk mengecek ipk di Studensite. Lalu setelah itu saya disms oleh teman-teman saya kalau nilai ipk sudah bisa dicek di Studensite. Dan akhirnya saya pun langsung mengecek nilai ipk saya. Dan sekitar setengah jam ipknya baru bisa dilihat dan dibuka, saya sangat kecewa sekali pada saat saya sedang membuka nilai ipk saya.

Dan saya pun langsung drop saat saya mengetahui nilai ipk saya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, kemudian setelah saya tau tentang nilai ipknya. saya benar-benar stres sampai-sampai seharian itu saya tidak makan, dan tidak mandi, saya menangis dan sedih sekali perasaan saya pun bercampur aduk. Dan saya sendiri juga tidak menyangka dengan ipk yang saya dapat, padahal saya sangat optimis sekali dengan ipk saya. Dan akhirnya saya sempet punya pikiran untuk kabur dari rumah karena pada saat itu pikiran saya sedang tidak jernih dan pikiran saya sedang tidak terkontrol juga.

Kemudian setelah itu saya juga pernah merasakan pengalaman stres yang berkepanjangan, dan saya pernah merasakan frustasi yang cukup lama hilangnya.gara-gara handphone kesayangan saya mati total karena kehujanan. Saya dijalan kehujanan dan basah kuyup pada saat saya mau berangkat ke kampus, dan saya juga malu ketika saya tiba dikelas dengan keadaan basah, setelah itu saya duduk dibangku dan saya pun langsung mengisi soal tersebut. dan ketika waktunya pulang saya baru ingat kalo handphone saya yang ada ditas basah. Saya langsung menangis begitu saya tau handphone saya tidak bisa menyala lagi, saya sudah coba berusaha mengunjungi semua konter hp dan akhirnya hasilnya pun nihil ternyata handphone saya sudah tidak bisa dibenerin lagi. Sangat sedih dan kecewa sekali mendengar handphone saya tidak bisa untuk menyala lagi. Demokian lah berbagai cerita pengalaman stres yang pernah saya rasakan.

1.      Cara untuk mengatasi stres ada 3 yaitu :

1.      Dengan membuka lebih banyak pikiran dan pandangan, terkadang orang tidak mau membuka lebih banyak pikiran dan masalahnya kepada orang lain sehingga akhirnya masalah bertumpuk-tumpuk dan semakin menekan pikiran. Sehingga lebih banyak share dan membagi cerita jika dirasa sudah sangat menekan kepada orang lain merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi stres.
2.      Cara kedua yang bisa menjadi solusi sebagai pemecahan stres adalah dengan memandang sederhana semua masalah, memandang sederhana bukan berarti meremehkan dan menunda masalah namun lebih menyikapi masalah dengan cara yang berbeda agar kita bisa lebih jernih dan tenang dalam mengambil jalan selanjutnya. Terkadang orang melihat masalah seolah kiamat yang bisa menghantam dan mengahancurkannya dalam satu waktu, ini adalah cara dan sisi pandang yang salah karena sebesar apapun masala sebenarnya masih bisa diatasi jika kita bisa jernih dalam menentukan langkah, jadi jangan lagi memandang besar sebuah masalah dan seolah tidak ada lagi jalan keluar.
3.      Cara ketiga untuk mengatasi stres adalah dengan cara keluar dan mencari tempat yang menenangkan seperti tempat rekreasi. Cara seperti ini akan membuat pikiran lebih tenang dan rilek sehingga bisa leluasa dalam menentukan langkah dan mengambil opsi masalah.




· Cari kasus tentang stres di lingkup mana saja kutip kasusnya, lalu beri pendapat ?

Nah Lu: Caleg Stres Mulai Bermunculan!
PEMBERITAAN gencar di media tentang sejumlah rumah sakit yang menyiapkan kamar untuk caleg stress bukan antisipasi kosong. Politisi kagetan yang gagal meraup suara akhirnya bermunculan. Baru sehari pascapemilu legislatif, ada caleg stres yang sudah jadi berita.

Di Cirebon, Caleg Demokrat, Witarsa – misalnya,  kepalanya diguyur air dengan gayung, masih memakai jaket partainya. Caleg Dapil Jabar X sudah kepanasan rupanya. Saat diguyur, Witarsa nampak manut-manut saja. Keluarganya tidak membawa Witarsa ke rumah sakit dan konsultasi dengan
psikiater, melainkan memilih menjalani pengobatan tradisional, dibacai ayat-ayat suci Al-Quran dan diterapi oleh Ustadz Ujang Bustomi.

Witarsa pun tak malu malu menangis. Dia mengaku stres karena perolehan suara untuknya sangat minim. Padahal, modal yang dikeluarkan sangat besar.

Lain lagi Caleg dari PKS, Muhammad Taufiq (50). Kecewa dan marah perolehan suaranya minim, tiba-tiba dia keluar dari rumah dan mendatangi TPS 2 Dusun Cekocek, Desa Bierem, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang. Bersama temannya, bikin aksi mengejutkan panitia di TPS.

“Merasa tidak puas dengan hasil perhitungan suara, kedua pelaku pergi ke TKP dan mengambil kotak suara secara paksa, kemudian dibawa ke rumah Saudara Taufik,” ujar Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie, Kamis (10/4/). Kedua pelaku kemudian diamankan Panwascam  Tambelangan.

Masih dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, calon anggota legislatif nomor 7,  Muhammad Jafar, meminta kembali dana “politik uang” yang ditebarnya, setelah mengetahui perolehan suara di TPS 7, Kampung Nelayan Mansapa, Nunukan, hanya dapat dua suara.

Meski sering diteriakkan dan disepakati, siap menang dan siap kalah – ternyata cuma ucapan manis di bibir. Politik itu kejam, ganas, buas. Dikelilingi tim sukses yang menjanjikan bakal menang, karena berharap dapat banyak saweran, caleg yang minim suara, akhirnya sadar telah tertipu. Stress. – dimas.

Di kutip dari: http://poskotanews.com/2014/04/11/nah-lu-caleg-stres-mulai-bermunculan/


Pendapat:
Saya tentu sangat prihatin dengan kejadian ini. Mestinya, setiap partai politik juga melakukan tes kejiwaan yang ketat terhadap bakal caleg sebelum mengajukan pendaftaran. Para caleg pun mestinya sejak awal sudah menyiapkan mental, bahwa ada kemungkinan dia menang dan kalah. Kalau sejak awal cemas bakal kalah, ya tidak perlu mendaftar jadi caleg, serta tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk “membeli” suara rakyat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar