Senin, 23 Juni 2014

Kesehatan Mental (Pendekatan Kesehatan Mental)

Pendekatan Kesehatan Mental

            Ada 5 pendekatan yang mendukung kesehatan mental seseorang yaitu: Pendekatan Statistik, Pendekatan Normatif, Pendekatan Distres Subjektif, Pendekatan Fungsi / Peranan Sosial dan Pendekatan Interpersonal. Penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut:

a.      Pendekatan Statistik

            Pendekatan ini beranggapan bahwa orang yang sehat secara mental/ normal adalah orang yang melakukan tingkah laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya. Atau dengan kata lain, suatu tingkah laku disebut sehat bila tingkah laku tersebut memiliki frekuensi kemunculan yang tinggi dalam populasi. Sebaliknya, orang yang bertingkah laku tidak seperti tingkah laku kebanyakan orang dianggap sebagai orang yang tidak normal atau tidak sehat.

            Sepintas pendekatan ini terlihat benar. Namun bila dipikirkan secara mendalam, tampak beberapa kelemahannya. Ada tingkah laku yang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan tapi tetap dianggap normal atau sehat. Misalnya mampu berbicara dalam 5 bahasa. Jarang ada orang yang memiliki kemampuan tersebut, namun orang yang memilikinya dianggap sebagai normal. Atau misalnya orang yang mampu berjalan diatas api tanpa terbakar. Tetap dianggap sebagai orang yang sehat atau normal. Sebaliknya, ada tingkah laku yang sebenarnya tidak sehat tetapi dilakukan oleh banyak orang. Misalnya merokok.


b.      Pendekatan Normatif

            Pendekatan ini melihat orang sehat secara mental berdasarkan apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma sosial yang berlaku di masyarakat ataukah tidak. Tolok ukur yang dipakai dalam pendekatan ini adalah norma – norma yang berlaku di masyarakat.

            Orang yang mampu menyesuaikan diri dengan norma masyarakatnya dianggap sebagai orang yang memiliki kesehatan mental yang baik. Sementara orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma sekitarnya dianggap memiliki kesehatan mental yang buruk.
                                         
            Pendekatan ini pun memiliki kelemahan. Ada tingkah laku yang sebetulnya menyimpang dari norma yang ada tetapi dianggap sebagai normal, Misalnya tingkah laku homoseksual. Masyarakat Barat sekarang ini menganggap perilaku homoseksual bukan lagi dikategorikan sebagai penyimpangan seks. Perilaku korupsi yang terjadi di negara kita pada semua lapisan birokrasi, sekarang ini dianggap sebagai perilaku normal. Sebaliknya, orang yang tetap berusaha berperilaku jujur malah dianggap sebagai orang yang tidak normal dan bahkan “tidak sehat”.


c.       Pendekatan Distres Subjektif
              Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa        sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang mengganggunya. Kelemahan          pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektivitas individu mengakibatkan            tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relatif, tergantung pada          situasi yang dihadapi. Contohnya, bila orang tiba – tiba berbicara terus menerus tanpa             diketahui artinya di muka umum, maka dia dianggap sedang sakit atau terganggu dan       tidak normal. Namun bila perilaku tersebut dimunculkan pada suatu ritual keagamaan,     perilaku tersebut dianggap wajar dan normal.

d.      Pendekatan Fungsi / Peranan Sosial

            Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan hariannya. Orang dianggap sehat atau normal bila dia mampu menjalankan fungsi dan peranannya dalam masyarakat dan tidak mengalami gangguan dalam menjalankan tugas – tugas hariannya.

            Kelemahan pendekatan ini adalah tidak semua orang bisa dikatakan normal meskipun dia mampu menjalankan fungsi dan perannya. Misalnya penderita gangguan bipolar ( manis depresif ). Pada saat orang yang bersangkutan mengalami episode mania, dia mungkin menjadi bersemangat dan mampu melakukan berbagai aktifitas dengan baik, padahal sebenarnya dia sedang terganggu.


e.       Pendekatan Interpersonal


            Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuaikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang interpersonal dengan orang lain. Misalnya pendekatan ini, orang dikatakan sehat dan mampu menyesuaikan diri dengan baik bila dia mampu menjalin relasi dengan orang lain dan tidak menarik diri dari orang lain. Pendekatan ini pun memiliki kelemahan, tidak selalu orang yang menyendiri itu tidak sehat atau tidak normal dan tidak mampu menyesuaikan diri. Terkadang kesendirian itu penting supaya orang mampu memahami diri dengan lebih baik lagi atau juga sebagai kesempatan untuk memulihkan diri. Juga tidak selalu orang yang mampu menjalin relasi dengan orang lain merupakan orang yang sehat.

1 komentar:

  1. Mirisnya isu kesehatan mental masih melekat stigma negatif bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, jadi bagi yang mengalami penyakit mental merasa minder saat mau menggunakan layanan kesehatan mental. Tapi katanya dengan membaca artikel psikoedukasi secara intensif mampu menurunkan stigma sosial dan pribadi yang disematkan pada pengguna layanan kesehatan mental secara signifikan. Ini penelitiannya.

    BalasHapus